Program GAYATRI di Kabupaten Bojonegoro merupakan intervensi kebijakan publik yang bertujuan memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa melalui pengembangan peternakan ayam petelur skala rumah tangga. Fokus utama program ini berada pada peningkatan kapasitas produksi melalui distribusi bantuan ternak di tingkat desa.
Pendekatan tersebut terbukti mampu mendorong peningkatan produksi secara signifikan. Dengan cakupan 430 desa (419 desa dan 11 kelurahan), serta rata-rata 25 peternak per desa, jumlah peternak diperkirakan mencapai sekitar 10.750 orang. Dengan asumsi masing-masing peternak memelihara 54 ekor ayam, maka total populasi ayam petelur dapat mencapai 580.500 ekor.
Dengan tingkat produktivitas yang tinggi, estimasi produksi harian mencapai sekitar 547.000 butir telur, atau hampir 1.000 ton per bulan. Angka ini menunjukkan keberhasilan pada sisi produksi, namun sekaligus menghadirkan tantangan baru berupa potensi surplus yang perlu dikelola secara tepat.
Peningkatan produksi yang tidak diimbangi dengan kesiapan sistem distribusi berpotensi menekan harga di tingkat peternak. Ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan menjadi persoalan utama, terutama ketika produksi meningkat secara serentak di berbagai wilayah.
Di sisi lain, harga pakan yang terus meningkat menyebabkan biaya produksi semakin tinggi, sementara harga telur yang fluktuatif berkisar antara Rp22.000 hingga Rp27.000 per kilogram menciptakan ketidakpastian pendapatan. Kondisi ini diperburuk oleh struktur pasar yang belum terorganisir dengan baik, sehingga membuka ruang bagi perantara untuk memainkan harga.
Selain itu, muncul indikasi distorsi implementasi berupa penjualan paket bantuan ayam melalui media sosial dengan kisaran harga Rp5 juta hingga Rp9 juta. Praktik ini berpotensi menimbulkan moral hazard dan mengurangi efektivitas program.
Untuk memperoleh gambaran empiris di tingkat lapangan, dilakukan survei terhadap 81 peternak dari total populasi 375 peternak di Kecamatan Kepohbaru.
Pengukuran dilakukan menggunakan indikator Feed Conversion Ratio (FCR), Hen Day Production (HDP), dan tingkat mortalitas. FCR menunjukkan efisiensi penggunaan pakan, HDP menggambarkan tingkat produktivitas harian ayam, sedangkan mortalitas menunjukkan tingkat kematian ternak.
Hasil pengukuran menunjukkan nilai FCR sebesar 1,5; HDP sebesar 94,25%; serta tingkat mortalitas sebesar 3,7%. Secara teknis, capaian ini tergolong baik, namun belum merata di seluruh peternak. Variasi dalam manajemen pemeliharaan dan kualitas pakan memengaruhi capaian tersebut.
Temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan produksi tidak secara otomatis berbanding lurus dengan peningkatan kesejahteraan peternak. Tekanan harga, tingginya biaya produksi, serta lemahnya posisi tawar tetap menjadi tantangan utama di tingkat lapangan.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa program GAYATRI masih berfokus pada aspek produksi (hulu), sementara penguatan tata kelola hilir belum optimal. Oleh karena itu, diperlukan langkah strategis untuk memastikan hasil produksi dapat terserap dengan baik dan memberikan manfaat ekonomi yang berkelanjutan.
Intervensi dapat dilakukan melalui pembentukan lembaga penyangga seperti BUMD pangan atau skema offtaker daerah, penguatan kelembagaan peternak, serta pengembangan sistem digital untuk monitoring produksi dan distribusi. Selain itu, diversifikasi produk olahan berbasis telur perlu dikembangkan untuk mengurangi tekanan surplus dan meningkatkan nilai tambah.
Menurut M. Fajar Dermawan, Pamong Pemerintahan Kecamatan Kepohbaru, surplus produksi merupakan indikator keberhasilan peternak. Namun demikian, penguatan sistem penjualan di tingkat bawah tetap diperlukan agar stabilitas harga terjaga, sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan produksi untuk program gizi masyarakat melalui dukungan pendataan digital.
Pada akhirnya, peningkatan produksi harus diiringi dengan penguatan tata kelola hilir. Tanpa itu, keberhasilan produksi berisiko tidak sepenuhnya berdampak pada kesejahteraan peternak. Program GAYATRI memiliki potensi besar, dan dengan pengelolaan yang lebih terintegrasi, program ini dapat menjadi fondasi penguatan ekonomi desa yang berkelanjutan.